News  

Rajiv NasDem Ingatkan Pemerintah Jaga Stok dan Harga Pangan Jelang Ramadhan–Lebaran, Waspadai Dampak Cuaca

Rajiv NasDem Ingatkan Pemerintah Jaga Stok dan Harga Pangan Jelang Ramadhan–Lebaran, Waspadai Dampak Cuaca
Ilustrasi Gedung DPR RI, (Dok: Kabar Makassar)

KabarBugis.id — Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, atas pentingnya kesiapan pemerintah menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Ia meminta para pemangku kepentingan memberikan perhatian serius pada pasokan, faktor cuaca, serta tren kenaikan harga yang sering terjadi selama Ramadhan hingga jelang Lebaran.

“Sebentar lagi kita akan menghadapi bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan, terutama ketersediaan pangan, faktor cuaca, dan kenaikan harga yang hampir selalu terjadi setiap Ramadhan dan jelang Lebaran,” ujar Rajiv, Selasa (03/02).

Rajiv menyoroti prediksi BMKG yang menyebut curah hujan masih berpotensi terjadi hingga April 2026. Menurutnya, kondisi ini dapat memicu bencana hidrometeorologi yang berdampak langsung pada produksi maupun distribusi pangan.

“Bencana hidrometeorologi ini menyebabkan kerusakan jalan dan longsor, sehingga produksi dan distribusi pangan terganggu, biaya logistik meningkat, dan akhirnya berakhir pada kenaikan harga pangan,” jelasnya.

Ia menilai strategi distribusi menjadi faktor krusial, terutama untuk komoditas yang kerap mengalami tekanan harga setiap tahun, seperti cabai, bawang, dan daging.

“Wilayah dan strategi distribusi menjadi sangat penting, karena setiap tahun kita selalu mengalami kenaikan harga pangan seperti cabai dan daging,” tegas legislator Fraksi Partai NasDem itu.

Rajiv juga mendengarkan kesiapan pemerintah dalam memperkuat sistem rantai pasok, termasuk penguatan cold chain, untuk menekan hilangnya hasil panen ketika permintaan meningkat.

“Apakah ada rencana penguatan rantai dingin untuk mengurangi kerugian komoditas pangan selama puncak permintaan? Wilayah mana yang menjadi sumber tekanan karena produksi terganggu cuaca, dan bagaimana rencana mitigasi pasokan antar daerah?” tanyanya.

Selain menyoroti persiapan Ramadhan, Rajiv juga menyampaikan dampak bencana alam terhadap petani hortikultura, khususnya di Kabupaten Bandung Barat. Ia mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.

“Kami mengapresiasi Kementerian Pertanian dan Bapanas atas tanggapannya dalam menyampaikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana alam di Kabupaten Bandung Barat,” katanya.

Namun, bantuan ia menegaskan penanganannya tidak boleh berhenti pada keadaan darurat. Rajiv mendorong langkah-langkah jangka panjang untuk melindungi ekosistem pertanian masyarakat setempat.

“Sudah saatnya kita duduk bersama dan memikirkan langkah apa yang harus segera dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi pertanian masyarakat, khususnya petani hortikultura yang selama ini menggantungkan hidupnya dari sayur-mayur dan bunga,” ujarnya.

Rajiv juga mengusulkan skema perlindungan bagi petani terdampak bencana, seperti asuransi gagal panen, agar petani tidak hanya bergantung pada bantuan pascabencana.

“Apakah perlunya petani kita diasuransikan, seperti nelayan yang mendapatkan asuransi dari KKP? Mungkin Kementan perlu memikirkan asuransi gagal panen, sehingga kita tidak terus-menerus menunggu anggaran bantuan untuk rehabilitasi,” tutupnya.