News  

135 Eks Napiter di Sulsel Dibina, Mayoritas Berdomisili di Makassar

KabarBugis.id — Upaya deradikalisasi dan pembinaan mantan narapidana terorisme (napiter) terus diperkuat di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri, terdapat 135 eks-narapidana terorisme di wilayah Sulsel, dan sekitar 90 persen di antaranya berdomisili di Kota Makassar.

“135 ya eks, dominan Makassar,” singkat Kasatgaswil Densus 88 Sulsel, Agung NM, dalam pertemuan dengan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Balai Kota Makassar, Selasa (14/10).

Agung juga menegaskan bahwa berdasarkan data tersebut hingga kini tidak ditemukan aparatur sipil negara (ASN) di Kota Makassar yang terindikasi terpapar radikalisme. Meski begitu, ia mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan agar kemampuan deteksi dini tidak tumpul.

“Sejauh ini aman-aman saja. Tidak ada ASN yang terpapar. Namun kemampuan deteksi harus terus diasah, jangan sampai lengah,” tegasnya.

Selain itu katanya, pertemuan ini menjadi bagian dari langkah strategis memperkuat sinergi antara aparat keamanan dan pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan sosial dan mencegah penyebaran paham radikal di masyarakat.

Agung menjelaskan, seluruh eks-napiter di Sulsel saat ini berada di bawah pembinaan Yayasan Rumah Moderasi Makassar, lembaga rehabilitasi sosial dan ekonomi yang melibatkan Pemkot Makassar, Pemprov Sulsel, dan sejumlah mitra masyarakat.

“Yayasan Rumah Moderasi Makassar menjadi wadah bagi para eks-napiter untuk membangun kembali kehidupannya. Di sana mereka menjalankan berbagai bidang usaha seperti warung kopi, penjualan makanan, hingga jasa servis AC,” ungkap Agung.

Ia menambahkan, program pembinaan tersebut tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga penguatan ideologi kebangsaan dan sosial kemasyarakatan agar para eks-napiter dapat kembali berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat secara damai.

“Pembinaan ini sangat penting. Kami ingin memastikan mereka tidak hanya diterima kembali oleh masyarakat, tapi juga mandiri secara ekonomi dan tidak lagi terpengaruh oleh paham ekstrem,” ujarnya.

Selain pembinaan, Densus 88 juga memperkuat sistem deteksi dini untuk mengantisipasi munculnya kembali potensi radikalisme di tengah masyarakat. Menurut Agung, upaya pencegahan di tingkat akar rumput menjadi kunci utama menjaga stabilitas keamanan.

“Kami punya jaringan di lapangan, mulai dari lurah, Bhabinkamtibmas, hingga aparat pemerintahan di tingkat bawah. Mereka rutin berkoordinasi dan berkomunikasi dengan kami untuk mendeteksi potensi sejak dini,” paparnya.

Salah satu fokus penting dalam koordinasi tersebut adalah edukasi bagi anak-anak dan remaja agar tidak mudah terpengaruh oleh konten radikal yang marak di ruang digital. Agung menilai, dunia maya kini menjadi jalur utama penyebaran ideologi ekstrem yang menyasar kelompok muda.

“Edukasi anak di bawah umur bukan hanya tanggung jawab Densus 88, tapi juga dilakukan bersama Pemkot Makassar. Program ceramah ke sekolah sudah berjalan dan kami terus rutin melaksanakannya,” pungkasnya.

 

 

 

Nursinta