KABARBUGIS.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (27/1). Tekanan jual masih mendominasi pergerakan pasar saham domestik sejak awal sesi.
Hingga pukul 10.10 WITA, IHSG tercatat turun 67,57 poin atau setara 0,75 persen ke level 8.907. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan mencapai 5,5 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp2,96 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 384.320 kali.
Pada perdagangan pagi ini, sebanyak 365 saham tercatat melemah, 181 saham menguat, dan 145 saham bergerak stagnan.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa IHSG masih dibayangi aksi jual bersih investor asing (net foreign sell) senilai Rp1,01 triliun pada perdagangan sebelumnya. Tekanan tersebut membuat pergerakan IHSG cenderung terbatas, seiring pelemahan saham-saham konglomerasi menjelang pengumuman rebalancing MSCI pada Februari 2026.
Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dijadwalkan pekan ini.
Secara teknikal, IHSG diproyeksikan bergerak sideways dengan area support di level 8.922 dan resistance di 9.035.
Di tengah kondisi pasar global yang belum stabil, sektor komoditas, khususnya emas, masih dipandang sebagai pilihan defensif oleh investor. Pasar cenderung menunggu kepastian arah kebijakan moneter The Fed serta hasil rebalancing MSCI dengan metodologi terbaru.
Berikut rekomendasi saham dari sejumlah sekuritas pada perdagangan Selasa (27/1):
CGS International Sekuritas
ARCI, PSAB, HRTA, BRMS, CMRY, TINS
Phintraco Sekuritas
PGEO, ERAA, JSMR, AKRA, MEDC
BRI Danareksa Sekuritas
ADRO, AKRA, MDKA
Panin Sekuritas
ULTJ, BBCA, PGEO
Mirae Asset Sekuritas
BRIS, BRPT, SILO
Phillip Sekuritas
PGEO, AGII
MNC Sekuritas
AKRA, BRIS, GOTO, JSMR
Disclaimer: Rekomendasi saham di atas disusun berdasarkan analisis teknikal dan fundamental masing-masing sekuritas. Investor diimbau untuk tetap mencermati kondisi pasar dan melakukan analisis secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Informasi ini tidak bersifat ajakan membeli atau menjual efek tertentu.












