KabarBugis.id — Toraja Highland Festival (THF) 2026 akan dirangkaikan dengan ritus adat Merok Tongkonan Potoksia dan Kamiri di Buntupune, Toraja Utara, pada 19 Oktober hingga 7 November 2026. Dalam pelaksanaannya, peserta festival, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), diimbau untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hitam sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi adat setempat.
Ketua Panitia THF, Marselinus Dua Lembang, mengatakan pelaksanaan festival telah dikoordinasikan dengan keluarga dan tokoh adat atau toparengge’ di Ba’tan. Koordinasi tersebut dilakukan agar seluruh rangkaian kegiatan festival tidak mengganggu jalannya ritus adat yang memiliki makna sakral bagi masyarakat setempat.
Hal itu disampaikan Marselinus dalam konferensi pers yang digelar di Rumah Jabatan Bupati Toraja Utara, Kecamatan Tallunglipu, Rabu (28/10).
“Sebelumnya kita sudah jalin komunikasi keluarga dan tokoh adat (toparengge’) di Ba’tan dan mereka memberi ruang bagi kami dengan catatan bahwa ada hari di mana ritual adat berlangsung tidak boleh ada penampilan seni yang mengganggu berjalannya ritus adat,” ujar Marselinus.
Ia mencontohkan pelaksanaan ritual Masomba Tedong pada 5 November 2026 malam. Pada waktu tersebut, panitia tidak menjadwalkan pertunjukan seni agar prosesi adat dapat berlangsung tanpa gangguan.
Marselinus menjelaskan, koordinasi bersama keluarga, toparengge’, dan pemerintah setempat juga mencakup sejumlah batasan adat yang harus dipatuhi selama festival, termasuk ketentuan mengenai pakaian.
“Disarankan bagi peserta THF termasuk pelaku pasar UMKM untuk tidak menggunakan pakaian warna hitam karena ini adalah upacara adat syukuran yang secara umum menggunakan pakaian warna kuning,” ungkapnya.
THF 2026 memadukan rangkaian ritual adat Toraja, ibadah, pertunjukan seni, serta kegiatan ekonomi kreatif melalui bazar UMKM dan pameran foto serta lukisan. Perpaduan tersebut diharapkan menjadi ruang pengenalan budaya Toraja sekaligus mendorong pelestarian warisan leluhur.
Rangkaian Ritus Adat dan THF 2026
Rangkaian kegiatan dijadwalkan dimulai pada 13–16 Oktober 2026 dengan sejumlah persiapan, termasuk pembersihan kuburan di sekitar Buntupune dan Manglelleng serta pembuatan pondok oleh keluarga dan masyarakat setempat.
Pada 19 Oktober, kegiatan adat diawali dengan Ma’Patama Gandang pada pagi hari dan Ma’Bugi’ pada malam hari.
Rangkaian adat dan ibadah selanjutnya dijadwalkan pada 2–3 November 2026. Kegiatan tersebut meliputi Mangrimpun, Ma’pabendan Bate, Ma’kerenren, serta ibadah bersama jemaat setempat.
Pada 5 November, kegiatan Ma’tarampak akan diisi dengan Mangrampung Bai, ibadah, makan bersama, Ma’lalan Ada’, Mangosok Sendana, Masomba Tedong, Massuka’ Barra’, dan Ma’Bugi’.
Sementara itu, pada 6 November, rangkaian Matanna atau Ma’Papa meliputi Mantunu Bai, Massingi’ Tongkonan, prosesi arakan Lettoan, ibadah, sambutan pemerintah dan perwakilan keluarga, Ma’dandan, Manimbong, serta Ma’lalan Ada’.
Puncak rangkaian adat dan hiburan THF dijadwalkan berlangsung pada 7 November melalui kegiatan Ma’Bubung. Agenda hari itu diawali dengan Fun Bike, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian adat dan ibadah.
Pertunjukan seni akan digelar di Teater Buntupune pada pukul 16.00–22.00 WITA. Sejumlah penampil yang direncanakan hadir antara lain kelompok tari dari SMPN 1 Rantepao, SD Katolik, dan SMP 1 Kesu, Pa’bussuk dari Baruppu, Band Braga, grup akustik 3 of Kind dan Simplyzet, serta DJ Ucup.
Selain pertunjukan seni, panitia juga menyiapkan bazar UMKM serta pameran foto dan lukisan pada 5–7 November 2026, pukul 10.00–20.00 WITA. Adapun Fun Bike dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 7 November, mulai pukul 07.30 WITA.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, THF 2026 diharapkan menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus daya tarik wisata bagi pengunjung yang ingin mengenal tradisi dan kekayaan budaya Toraja.
